Kamis, 24 Maret 2011

HIV/AIDS (B24), Pneumonia, Limfadenopati Regio Colli, Multiple Stomatitis, dan Underweight


PRESENTASI KASUS
B24, Pneumonia, Limfadenopati Regio Colli, Multiple Stomatitis, dan Underweight





Diajukan Kepada :
Dr. Suharno, Sp.PD

Disusun oleh :
  1. Radietya Alvarabie G1A210023
  2. Femi Widiastuti G1A209157
  3. Anjung Sekar A G1A209171
  4. Suci Dara G1A209148


SMF PENYAKIT DALAM

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

2011

LEMBAR PENGESAHAN



Telah dipresentasikan dan disetujui presus berjudul :
B24, Pneumonia, Limfadenopati Regio Colli, Multiple Stomatitis, dan Underweight

Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat ujian di SMF Ilmu Penyakit Dalam
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun oleh :
  1. Radietya Alvarabie G1A210023
  2. Femi Widiatuti G1A205157
  3. Anjung Sekar A G1A209171
  4. Suci Dara G1A209148



Pada tanggal : Maret 2011


Dokter pembimbing


Dr. Suharno, Sp.PD

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Dewasa ini dunia sedang menghadapi suatu pandemi virus penyebab Acquired Immune Defficiency Syndrome (AIDS), yang dikenal sebagai Human Immunodeficiency Virus (HIV). AIDS singkatan dari Acquired Immune Defficiency Syndrome. Acquired artinya didapat bukan penyakit keturunan, immuno berarti sistem kekebalan tubuh, defficiency artinya kekurangan sedangkan syndrome kumpulan gejala. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit – penyakit lain yang berakibat fatal, padahal penyakit tersebut tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal.
Timbulnya pandemi HIV/AIDS dimulai dengan adanya inpelasi HIV yang terjadi secara tersembunyi selama beberapa tahun, yang kemudian diikuti dengan munculnya ledakan kasus – kasus AIDS. Ledakan ini pada awalnya ditemukan di Amerika Serikat dan Afrika, yang disusul dengan timbulnya reaksi masyarakat menghadapi kenyataan tersebut.
Penyakit infeksi HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia dewasa ini, terdapat hampir seluruh negara didunia tanpa kecuali Indonesia. Masalah yang berkembang sehubungan dengan penyakit infeksi HIV/AIDS adalah angka kejadiannya yang cenderung terus meningkat dengan angka kematian yang tinggi. Penyakit ini sudah merupakan pandemi yang menyerang seluruh dunia. Data epidemiologi menunjukan peningkatan yang cepat pada tahun terakhir ini khususnya dikawasan Asia Tenggara. ¹
Pada saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 80.000 – 120.000 OHIDA (orang hidup dengan HIV/AIDS) dengan faktor – faktor yang mempermudah terjadinya epidemi, maka Indonesia sangat terancam bencana nasional HIV/AIDS ditahun 2010. Perkiraan jumlah penderita AIDS di Indonesia di tahun 2010 adalah 100.000 dengan pengidap HIV sebanyak 1.000.000 orang pada tahun 2010 kecuali apabila dilakukan tindakan pencegahan secara serius. ¹
Dunia kedokteran hingga saat ini belum dapat menemukan obat anti HIV/AIDS yang ampuh. Satu – satunya upaya yang dilakukan saat ini adalah penyuluhan seluas – luasnya kepada semua pihak untuk memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang cara – cara menghindari penularan, dengan menghindari atau mengurangi resiko penularan.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

    1. DEFINISI

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yaitu menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit karena adanya infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus).
AIDS dapat didefinisikan sebagai suatu sindrom atau kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik defisiensi imun yang berat, dan merupakan manifestasi stadium akhir infeksi HIV. Antibodi HIV positif tidak identik dengan AIDS, karena AIDS harus menunjukkan adanya satu atau lebih gejala penyakit akibat defisiensi sistem imun selular.
Untuk negara-negara yang mempunyai fasilitas diagnostik yang cukup, definisi AIDS adalah sebagai berikut :
  1. Suatu penyakit yang menunjukkan adanya defisiensi imun selular, misalnya sarkoma Kaposi, atau satu atau lebih infeksi oportunistik yang didiagnostik dengan cara yang dapat dipercaya.
  2. Tidak adanya sebab-sebab lain imunodefisiensi selular yang diketahui berkaitan dengan penyakit tersebut.
Untuk negara-negara yang tidak mempunyai fasilitas diagnostik yang cukup, telah disusun suatu ketentuan klinik sebagai berikut :
  1. Dicurigai AIDS pada orang dewasa bila ada paling sedikit dua gejala mayor dan satu gejala minor dan tidak ada sebab-sebab imunosupresi yang lain seperti kanker, malnutrisi berat, atau pemakaian kortikosteroid yang lama.
Gejala mayor :
  1. Penurunan berat badan lebih dari 10%
  2. Diare kronik lebih dari 1 bulan
  3. Demam lebih dari satu bulan (kontinyu atau intermiten)
Gejala minor :
  1. Batuk lebih dari satu bulan
  2. Dermatitis pruriti umum
  3. Herpes zoster recurrens
  4. Kandidiasis oro-faring
  5. Lamfadenopati generalisata
  6. Herpes simpleks diseminata yang kronik progresif
  1. Dicurigai AIDS pada anak, bila terdapat paling sedikit dua gejala mayor dan dua gejala minor, dan tidak terdapat sebab-sebab imunosupresi yang lain seperti kanker, malnutrisi berat, pemakaian kortikosteroid yang lama atau etiologi lain.
Gejala mayor :
  1. Penurunan berat badan atau pertumbuhan yang lambat dan abnormal
  2. Diare kronik lebih dari 1 bulan
  3. Demam lebih dari 1 bulan
Gejala minor :
  1. Limfadenopati generalisata
  2. Kandidiasis oro-faring
  3. Infeksi umum yang berulang
  4. Batuk persisten
  5. Dermatitis generalisata
  6. Infeksi HIV pada ibunya
Kriteria tersebut khusus untuk negara-negara Afrika yang mempunyai pravelensi AIDS tinggi, dan belum tentu sesuai untuk digunakan di Indonesia.

Beda pengidap HIV ( HIV + ) dengan penderita AIDS

  • Pengidap HIV ( HIV + ) ( baca : HIV positif ) :

  • Tampak sehat dan berproduktif ( masa inkubasi virus HIV adalah 2 – 10 tahun )

  • Berpotensi menularkan

  • Penderita AIDS

  • Terdapat gejala-gejala penyakitnya yaitu kumpulan-kumpulan penyakit yang timbul karena kekebalan tubuh sangat berkurang atau hilang.

  • Berpotensi menularkan

  • Perlu pelayanan kesehatan, pengobatan & perawatan & biaya

  • Ada rasa takut mati ( membuat cepat meninggal )

  • Secara psikis perlu dukungan dari pihak keluarga

  • Perlu lingkungan pergaulan yang membantu (empati lingkungan)


II.2 EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan data statistic HIV/AIDS di Indonesia tercatat jumlah penderita odha sampai Desember 2010, yaitu :

II.3 ETIOLOGI

Luc Montagnier dkk tahun 1983 telah menemukan LAV (Lymphadenopathy Associated Virus) dari seseorang dengan pembengkakan kelejar limfe (PGL). Pada tahun 1984 sejenis virus yang disebut HTVL 3 (Human T cell Lymphotropic Virus tipe 3) ditemukan dari pasien AIDS di Amerika oleh Robert Gallo dkk. Kemudian ternyata bahwa kedua virus tersebut sama, dan oleh Committee Taxonomy International pada tahun 1985 disebut sebagai HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Sampai tahun 1994 diketahui ada dua subtipe yaitu HIV 1 dan HIV 2.

HIV 1 dan HIV 2 merupakan suatu virus RNA yang termasuk retrovirus dan lentivirus. HIV 1 penyebarannya lebih luas di hampir seluruh dunia, sedangkan HIV 2 ditemukan pada pasien-pasien dari Afrika Barat dan Portugal. HIV 2 lebih mirip dengan monkey virus yang disebut SIV (Simian Immunodeficiency Virus). Antara HIV 1 dan HIV 2 intinya mirip, tetapi selubung luarnya sangat berbeda.

HIV mempunyai enzim reverse transcriptase yang terdapat di dalam inti HIV dan akan mengubah RNA virus menjadi DNA. Inti HIV merupakan protein yang dikenal dengan p24, dan bagian luar HIV yang berupa selubung glikoprotein terdiri dari selubung transmembran gp 41 dan bagian luar berupa tonjolan-tonjolan yang disebut gp 120. Gen yang selalu ada pada struktur genetik virus HIV adalah gen untuk kode inti p24, dan gen yang mengkode polimerase Rtase. Sedangkan gen yang mengkode selubung luar akan sangat bervariasi dari satu strain virus dengan lainnya. Bahkan pada seorang pengidap HIV selubung luar ini dapat berbeda-beda.

II.4 PATOFISIOLOGI & PATOGENESIS

HIV adalah retrovirus yang menggunakan RNA sebagai genom. Untuk masuk ke dalam sel, virus ini berkaitan dengan receptor (CDA) yang ada dipermukaan sel. Artinya, virus ini hanya akan menginfeksi sel yang memiliki receptor CD4 pada permukaannya. Karena biasanya yang diserang adalah sel T lymphosit (sel yang berperan dalam sistem imun tubuh), maka sel yang diinfeksi oleh HIV adalah sel T yang CD4 dipermukaannya (CD4 + T cell).

Setelah berkaitan dengan receptor, virus berfusi dengan sel (fusion) dan kemudian melepaskan genomnya ke dalam sel. Di dalam sel, RNA mengalami proses reverse transcription, yaitu proses perubahan RNA menjadi DNA. Proses ini dilakukan oleh enzim reverse transcriptase.
Proses sampai tahap ini hampir sama dengan beberapa virus RNA lainnya. Yang menjadi ciri khas dari retrovirus ini adalah DNA yang terbentuk kemudian bergabung dengan DNA genom dari sel yang diinfeksinya. Proses ini dinamakan integrasi (integration). Proses ini dilakukan oleh enzim integrase yang dimiliki oleh virus itu sendiri. DNA virus yang terintegrasi ke dalam genom sel dinamakan provirus. Dalam kondisi provirus, genom virus akan stabil dan mengalami proses replikasi sebagaimana DNA sel itu sendiri. Akibatnya setiap DNA sel menjalankan proses replikasi secara otomatis genom virus akan ikut bereplikasi. Dalam kondisi ini virus bisa memproteksi diri dari serangan sistem imun tubuh dan sekaligus memungkinkan manusia terinfeksi virus seumur hidup (a life long infection).
Agar terjadi infeksi, virus harus harus masuk kedalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan kedalam DNA yang terinfeksi. Didalam sel, virus berkembang biak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya Limfosit T Helpex sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dan melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker.
Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun. Seseorang yang sehat memiliki limfosit cd4 sebanyak 800 – 1300 sel/ml darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40 – 50%. Selama berbulan-bulan penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah, meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi.
Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Kerusakan sel cd4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit cd4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi penderita AIDS.
1 – 2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit cd4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/ml darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi. Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit b (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit cd4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang.

II.5 CARA PENULARAN

Untuk dapat menginfeksi manusia, HIV harus masuk langsung ke aliran darah dan harus mempunyai konsentrasi yang cukup tinggi. Di bawah konsentrasi tertentu, tubuh manusia dapat mengeluarkan HIV yang masuk sehingga infeksi tidak akan terjadi. Virus HIV terdapat di dalam cairan tubuh manusia seperti keringat, ludah, air mata, darah, cairan sperma dan cairan vagina. Hanya saja pada keringat, ludah dan air mata konsentrasi HIV tidak cukup tinggi untuk dapat menularkan HIV. Cairan dengan konsentrasi HIV tinggi terdapat dalam darah, cairan sperma / air mani, dan cairan vagina, sehingga dapat menularkan.
Virus HIV juga masuk melalui luka terbuka, misalnya luka pada kulit, seks oral ( melalui mulut ) dan seks anal ( melalui anus ) juga sangat beresiko. Didalam rongga mulut virus HIV tidak memerlukan luka terbuka untuk dapat menginfeksi, tetapi virus dapat meresap melalui selaput lendir ( mukosa ) pada rongga mulut dan masuk menuju aliran pembuluh darah di bawahnya.
Berdasarkan hasil penelitian dari Eropa, Amerika, Afrika dan Australia terdapat tiga cara penularan HIV / AIDS yaitu sebagai berikut :
  1. Hubungan seksual (homoseksual / heteroseksual)
  2. Parenteral (jarum / alat tindik, tato, tranfusi darah / produk darah yang tercemar dan cangkok organ)
  3. Perinatal vertikal (penularan dari ibu yang mengidap HIV kepada anak / janin yang dikandungnya).
Walaupun HIV dapat diisolasi dari semua cairan tubuh (darah, semen, cairan vagina, air mata, air ludah, dan air susu), tetapi terbukti penularan hanya terjadi bila terdapat kontak langsung dengan darah, semen, atau cairan vagina.
AIDS tidak ditularkan melalui :
  • Bersalaman
  • Alat-alat makan
  • Air mata
  • Tinggal serumah dengan penderita AIDS
  • Gigitan serangga / nyamuk
  • Cium pipi
  • Makanan dan minuman
  • Mendonorkan darah
  • WC umum / toilet
  • Batuk bersin



II.6 GEJALA KLINIS

Fase dan gejala AIDS
Fase I:
Virus masih dalam tahap inkubasi. Pengidap disebut HIV +. Orang yang terinfeksi HIV pada fase ini akan tampak sama halnya dengan orang lain yang sehat. Pada fase ini belum ada gejala apa-apa.
Fase II :
Gejala minor yang mungkin timbul : batuk kronis lebih dari sebulan, bercak gatal dibeberapa bagian tubuh, muncul herpez zooster berulang, infeksi pada mulut dan tenggorokkan disebabkan oleh jamur Candida albicans, herpes simpleks kronis berkembang dan bertambah banyak, pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap diseluruh tubuh. Saat sistem kekebalan tubuh semakin menurun, mungkin timbul gejala mayor : penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 bulan, demam berkepanjangan lebih dari sebulan, diare kronis lebih dari sebulan baik berulang maupun terus menerus.
Fase III :
Kekebalan sangat berkurang bahkan hilang dan timbul penyakit yang disebut infeksi oppurtunistik yaitu : TBC, pneumonia, saraf terganggu, herpes dan lain-lain. Berat badan menurun secara menyolok lebih dari 10% perbulan.
Sebagian orang yang terinfeksi virus AIDS akan mendapatkan ARC (AIDS Related Complex) yaitu gejala-gejala yang timbul disebabkan kerusakan yang terjadi pada sistem kekebalan tubuh. Gejala-gejala ARC adalah pembengkakan kelenjar limfe, diare, capek yang berkepanjangan, penurunan berat badan, demam dan panas tinggi selama beberapa minggu dan bulan. sebagian lagi yang terinfeksi virus HIV akan menderita AIDS. Gejala-gejala AIDS adalah seperti pada ARC yang disertai sesak-napas, batuk kering, dan bercak merah muda atau ungu pada kulit. Sedangkan bagi yang mengidap virus HIV akan mengalami masa inkubasi anatara 2-10 tahun.
PENGIDAP HIV ( sumber penularan yang tidak diketahui )
  • Hari ke pertama : - terinfeksi HIV
  • belum terlihat tanda-tanda penurunan kesehatan
  • pemeriksaan darah negatif
  • Setelah bulan ke-3: - belum ada tanda penurunan kesehatan yang nyata
- pemeriksaan darah positif
  • Setelah tahun ke 5, secara bertahap daya tubuh mulai menurun, mudah terserang penyakit seperti flu, diare ( mencret ), demam.
AIDS ( tahap lanjut akibat penurunan daya tahan tubuh )
  • Setelah tahun ke 8 : - cepat dan sering merasa lelah
  • perbesaran kelenjar (di leher, ketiak, lipatan, paha) tanpa sebab yang jelas.
  • sering demam ( lebih dari 38 ˚C ) disertai keringat walau tanpa sebab yang jelas.
  • BB menurun secara mencolok
  • Antara tahun ke 8–10 : - diare ( mencret )
  • radang ( infeksi ) paru – paru
  • kanker kulit ( berupa koreng diseluruh badan )
  • radang ( infeksi ) selaput otak
  • tidak bisa mengurus diri sendiri sehingga memerlukan bantuan orang lain.



Beberapa infeksi oppurtunistik dan kanker yang merupakan ciri khas dari munculnya AIDS :
  1. Thrush
Yaitu pertumbuhan berlebihan jamur candida di dalam mulut, vagina atau kerongkongan. Biasanya merupakan infeksi yang pertama kali muncul. Infeksi jamur vagina berulang yang sulit diobati sering kali merupakan gejala dini HIV pada wanita tapi infeksi seperti ini juga bisa terjadi pada wanita sehat akibat berbagai faktor seperti pil KB, antibiotik dan perubahan hormonal.
  1. Pneumonia pneumokistik
Pneumonia karena jamur pneumosistis carinii merupakan infeksi oppurtunisktik yang sering berulang pada penderita AIDS. Infeksi ini sering kali merupakan infeksi opportunistik serius yang pertama kali muncul dan sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV.
  1. Toxoplasmosis
Infeksi kronis oleh toxoplasma yang sering terjadi sejak masa anak-anak, tapi gejala hanya timbul pada sekelompok kecil penderita AIDS. Jika terjadi pengaktifan kembali, maka toxoplasma bisa menyebabkan infeksi hebat, terutama di otak.
  1. TBC
TBC pada penderita infeksi HIV lebih sering terjadi dan bersifat lebih mematikan. TBC dapat diobati dan dicegah dengan OAT yang biasa digunakan.
  1. Infeksi saluran pencernaan.
Infeksi yang disebabkan oleh parasit Cryptosporydium sering ditemukan pada penderita AIDS. Gejalanya berupa diare hebat, nyeri perut, dan penurunan berat badan.
  1. Leukoensephalopati Multifokal Progresif
Suatu infeksi virus diotak yang bisa mempengaruhi fungsi neurologis penderita. Gejala awal biasanya hilangnya kekuatan lengan atau tungkai dan hilangnya koordinasi dan keseimbanagan.
  1. Infeksi Cytomegalo Virus
Infeksi ulangan yang terjadi pada stadium lanjut dan seringkali menyerang retina mata yang mengakibatkan kebutaan.
  1. Sarkoma Kaposi
Suatu tumor yang tidak nyeri, berwarna merah sampai ungu berupa bercak-bercak yang menonjol dikulit. Sering ditemukan pada pria homoseksual.
  1. Kanker
Bisa juga terjadi kanker KGB atau limfoma yang mula-mula muncul diotak atau organ dalam. Wanita penderita AIDS cenderung terkena Ca Cervix. Pria homoseksual juga sering terkena ca rektum.

II.7 PROGNOSIS

Pemaparan terhadap HIV tidak selalu mengakibatkan penularan, beberapa orang yang terpapar HIV selama bertahun-tahun bisa tidak terinfeksi. Disisi lain tidak menampakkan gejala selama lebih dari 10 tahun. Tanpa pengobatan infeksi HIV mempunyai risiko 1-2% untuk menjadi AIDS pada beberapa tahun pertama. Pengobatan AIDS telah berhasil menurunkan angka infeksi oppurtunistik dan meningkatkan angka harapan hidup penderita. Kombinasi beberapa jenis obat berhasil menurunkan virus dalam darah sampai tidak dapat terdeteksi. Tapi belum ada penderita yang terbukti sembuh. Teknik penghitungan jumlah virus HIV (plasma RNA) dalam darah seperti Polimerase Chain Reaction (PCR) dan Branched Deoxyribonucleid Acid (BDNA), tes ini membantu dokter untuk memonitor efek pengobatan dan membantu penilaian prognosis penderita. Pada awal penemuan virus HIV, penderita segera mengalami penanganan kualitas hidupnya setelah dirawat di RS. Hampir semua penderita akan meninggal dalam 2 tahun setelah terjangkit AIDS. Dengan perkembangan obat-obat anti virus terbaru dan pencegahan infeksi opportunisktik yang terus diperbaharui penderita bias mempertahankan kemampuan fisik dan mentalnya sampai bertahun-tahun setelah terkena AIDS. Sehingga pada saat ini bisa dikatakan bahwa AIDS sudah bisa ditangani walaupun belum bisa disembuhkan.

II.8 PENEGAKAN DIAGNOSIS HIV
Berbagai macam cara pemeriksaan dilakukan untuk menegakkan diagnosa HIV. HIV dapat diisolasi ( atau dikultur ) dari darah perifer yang kaya limfosit dan kadang – kadang dari cairan tubuh. Tetapi kultur sulit untuk dilakukan, biayanya mahal, membutuhkan waktu beberapa hari, tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan laboratorium dan lebih sering memberikan hasil positif yang tahap awal infeksi bila dibandingkan dengan tahap yang lebih lanjut.
Antigen virus HIV dapat dideteksi paling cepat 2 minggu setelah infeksi dan biasanya bertahan selama 3 – 5 bulan. Pada akhirnya deteksi antigen akan menjadi metode pilihan untuk mendeteksi adanya infeksi pada beberapa minggu pertama setalah pasien terpapar. Test enzyme – linked immunosorbent assay ( ELISA ) biasa digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap HIV. Pemeriksaan ELISA digunakan untuk mendiagnosa infeksi HIV secara tidak langsung. Jika diperoleh hasil positif atau reaktif maka dilakukan pemeriksaan ulang dengan mempergunakan darah yang sama. Jika hasilnya masih reaktif maka akan dilakukan pemeriksaan Western blot. Pemeriksaan ini dianggap sebagai pemeriksaan konfirmasi atas adanya antibodi terhadap HIV.
Hasil test HIV yang nonreaktif dapat terjadi selama masa infeksi akut dimana sebenarnya virus sudah ada tapi respon antibodi belum terbentuk. Lamanya waktu sebelum antibodi terdeteksi mungkin sekitar 6 bulan. Dalam periode ini, hasil pemeriksaan yang menunjukan adanya antigen HIV ( P24 ) mengarahkan pada adanya infeksi HIV. Saat menginterpretasikan hasil pemeriksaan HIV, kita harus selalu ingat bahwa hasil pemeriksaan yang positif yang mengindikasikan adanya infeksi HIV belum tentu berarti AIDS. AIDS adalah diagnosa klinik. Infeksi HIV merupakan kondisi klinik yang merupakan suatu proses berkelanjutan mulai dari sindroma yang menyerupai mononukleosis yang berhubungan dengan serokonversi sampai pada infeksi HIV yang tidak disertai gejala klinik dilanjutkan dengan infeksi HIV yang disertai gejala klinik dan akhirnya menjadi AIDS. Terdapat dua pemeriksaaan yang sering dipakai untuk mendeteksi adanya anti bodi terhadap HIV.
  1. ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay)
Bereaksi terhadap antibodi yang ada dalam serum dengan memperlihatkan warna yang lebih tua jika terdeteksi antibodi virus dalam jumlah lebih besar. Pemeriksaan ELISA mempunyai sensitifitas 93-98% dan spesifitas 98-99%, tetapi hasil positif palsu atau negatif palsu dapat berakibat luar biasa, karena akibatnya sangat serius. Oleh sebab itu pemeriksaan ELISA diulang dua kali dan jika keduanya menunjukkan hasil positif, dilanjutkan dengan pemeriksaan yang lebih spesifik.
  1. Werstern blot.
Pemeriksaan Western blot juga dilakukan dua kali. Pemeriksaan ini lebih sedikit memberikan hasil positif palsu atau negatif palsu. Jika seseorang telah dipastikan telah mempunyai sero positif terhadap HIV, maka dilakukan pemeriksaan klinis dan imunologi untuk menilai keadaan penyakitnya dan mulai dilakukan usaha untuk mengendalikan infeksi.

Arti dari hasil pemeriksaan
Hasil pemeriksaan positif menandakan hal-hal berikut :
  • Orang tersebut telah terinfeksi oleh HIV dan mungkin terinfeksi seumur hidup
  • Orang tersebut dianggap infeksius terhadap orang lain melalui transmisi darah dan cairan tubuhnya.
  • Tidak mungkin untuk meramalkan seseorang yang pada saat sekarang asimptomatik, kapan ia akan menderita AIDS, sebagian besar orang dengan sero positif saat ini, suatu saat akan berkembang menjadi AIDS dan pada masa itupun masih diperkirakan belum ditemukan pengobatan yang efektif.
  • Tidak mungkin untuk mencegah perkembangan kearah AIDS (akhir-akhir ini ada kemajuan dalam penyelidikan agen antiviral dan usaha pencegahan terjadinya infeksi opputunistik seperti Pneumonia pneumocytis carinii.
Suatu hasil pemeriksaan negatif tidak menunjukkan penderita benar-benar terbebas dari infeksi yang menakutkan ini. Hasil yang negatif berarti :
  • Tidak terdeteksi anti bodi HIV
  • Kemungkinan orang tersebut tidak terinfeksi
  • Orang tersebut mungkin baru terinfeksi dan antibodinya belum meningkat.
  • Penderita AIDS yang mungkin sudah sedemikian lemah sehingga sistem kekebalannya sudah tidak dapat lagi memberikan respon untuk membentuk antibodi.
Hasil yang meragukan juga dapat tertjadi, misalnya jika ELISA atau Western blot bereaksi lemah dan dengan demikian menimbulkan kecurigaan. Hal semacam ini dapat terjadi pada infeksi HIV dini, infeksi HIV yang sedang berkembang atau pada reaktifitas silang terhadap titer retrovirus lain yang tinggi, misalnya HIV 2 atau HLTV-1.

II.9 PENATALAKSANAAN
Berbagai pengobatan telah diterapkan untuk penyembuhan AIDS. Namun belum ditemukan pengobatan yang dapat memberantas penyakit ini. Obat-obat yang sekarang digunakan ini hanya menghambat atau memperlambat kerja virus tersebut.
Yang banyak dipraktekkan secara klinis sampai saat ini adalah pengobatan dengan obat kimia (chemotherapy) obat-obat ini biasanya adalah inhibitor enzim yang diperlukan untuk replikasi virus itu sendiri, seperti inhibitor enzim reverse transcriptase atau protease.
Pada saat ini sudah banyak obat yang digunakan untuk menangani infeksi HIV tersebut seperti :
  1. Golongan nudeoside reverse transcriptase inhibitor.
  1. Zidovudin (azt)
100 mg/4 jam atau 200 mg/ 4jam
  1. Ddi (didanosin)
Dewasa : ≥ 60 kg 200 mg, < 60 kg 125 mg 2 x sehari
  1. Ddc (zalsitabin)
  2. D4t (stavlidin)
Dewasa : ≥ 60 kg 40 mg, < 60 kg 30 mg 2 x sehari
Anak : 2 mg / kg BB/hari
  1. 3 tc (lamivudin)
12 thn 150 mg, 3 bln-15 thn 4 mg/kg BB 2 x sehari dapat dikombinasikan dengan zidofudin
  1. Golongan Non - nudeside reverse transcriptase inhibitor
  1. Nevirapin
  2. Delavirdin
  3. Efavirenz
  1. Golongan Protease inhibitor
  1. Saquinavir
  2. Ritonavir
  3. Indinavir
  4. Nelfinavir
Pertemuan konferensi Internasional AIDS ke XI di Vancouver bulan juli 1996 yaitu melaporkan penggunaan tipe obat kombinasi (triple drugs) yang mampu menurunkan VIRAL LOAD hingga jumlah minimal dan memberikan harapan penyembuhan. 5
Semua obat tersebut ditunjukan untuk mencegah reproduksi VIRUS sehingga memperlambat progresivitas penyakit. Pada umumnya pemakaian obat-obat ini adalah kombinasi satu sama lain. Hal ini disebabkan pada pemakaian obat tunggal selain tidak efektif juga menyebabkan mudah munculnya VIRUS yang resisten terhadap obat tersebut. Pemakaian obat kombinasi ini menjadi standar pengobatan AIDS saat ini dan cara ini dinamakan Higly Active Antiretroviral therapy (HAART). 5
  • Penderita AIDS → asiklovir jangka panjang
  • Pengobatan
  • Penderita obat-obatan untuk mencegah infeksi oportunistik.
  • Penderita dengan kadar limfosit cd4+ kuarang dari 200 sel/ml mendapatkan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol untuk mencegah pneumonia pneumokistik toksoplasma ke otak.
  • Penderita dengan limfosit cd4+ kurang dari 100 sel/ml darah mendapatkan azitromisin seminggu sekali atau klaritromisin atau rifabutin setiap dari untuk mencegah infeksi mycobacterium avium.
  • Terapi gen
Pendekatan lain yang dilakukan adalah terapi gen (gene therapy). Artinya, pengobatan dilakukan dengan mengintroduksikan gen anti -HIV ke dalam sel yang terinfeksi. Gen ini bisa berupa antisense (DNA yang mempunyai barisan komplementari) dari salah satu enzim yang diperlukan untuk replikasi virus tersebut atau ribozyme yang berupa antisense RNA yang memiliki kemampuan untuk menguraikan RNA yang menjadi target.
Antisense yang diintroduksikan dengan vektor akan menjalani proses transkripsi menjadi RNA bersamaan dengan messenger RNA virus (mRNA). Setelah itu, RNA antisense ini akan beriteraksi dengan mRNA dari enzim tersebut dan mengganggu translasi mRNA sehingga tidak menjadi protein. Karena enzim yang diperlukan untuk replikasi tidak berhasil diproduksi, otomatis HIV tidak akan berkembangbiak di dalam sel. Sama halnya dengan antisense, ribozyme juga menghalangi produksi suatu protein tapi dengan cara menguraikan mRNAnya.
Pendekatan yang dilakukan melalui RNA ini juga bagus dilihat dari segi imunologi, karena tidak mengakibatkan respon imun yang tidak diinginkan. Hal ini berbeda dengan pendekatan melalui protein yang menyebabkan timbulnya respon imun di dalam tubuh.
Untuk keperluan terapi gen ini, dibutuhkan sistem pengantar gen (gene delivery) yang efisien, yang akan membawa gen hanya kepada sel yang telah dan kan diinfeksi oleh HIV. Selain itu, sistem harus bisa mengekspresikan gen yang dibawa dan tidak mengakibatkan efek yang berasal dari virus itu sendiri. Untuk memenuhi syarat ini, HIV itu sendiri penjadi pilihan utama.
Pemikiran untuk memanfaatkan virus HIV sebagai vektor dalam proses gen transfer ini diwujudkan pertama kali pada tahun 1991 oleh Poznansky dan kawan-kawan dari Dana -Farber Cancer Institute, Amerika. Setelah itu penelitian tentang penggunaan HIV sebagai vektor untuk terapi gen berkembang pesat, sesuai dengan perkembangan penelitian HIV itu sendiri.²
Wenzhe Ho dari The Children Hospital of Philadelphia bekerjasama dengan Julianna Lisziewicz dari National Cancer institute berhasil menghambat replikasi HIV di dalam sel dengan menggunakan anti-tat, yaitu antisense tat protein (enzim yang ensensial untuk replikasi HIV). Sementara itu beberapa ilmuwan juga berhasil menghambat perkembangbiakan HIV dengan menggunakan ribozyme.³
Hal lain yang penting dalam sistem ini adalah tingkat ekspresi gen yang stabil. Dari hasil percobaan dengan tikus, sampai saat ini telah berhasil dibuat vektor yang bisa mengekspresikan gen dengan stabil dalam jangka waktu yang lama pada organ seperti otak, retina, hati, dan otot. Walaupun belum sampai pada aplikasi secara klinis, aplikasi vektor HIV untuk terapi gen bisa diharapkan.
Hal ini lebih didukung lagi dengan penemuan small interfering RNA. (siRNA) yang berfungsi menghambat expressi gen secara spesifik. Prinsipnya sama dengan antisense dengan ribozyme, tapi siRNA lebih spesifik dan hanya diperlukan sekitar 20 bp (base pair/pasangan basa), sehingga lebih mudah digunakan. Baru-baru ini David Baltimore dari Universty of California, Los Angeles (UCLA) berhasil menekan infeksi HIV terhadap sel T (human T cell) dengan menggunakan siRNA terhadap protein CCR5 yang merupakan coreseptor HIV. Dalam penelitian ini, HIV digunakan sebagai sistem penghantar gen.4
  • Vaksin
Selain itu juga dilakukan usaha untuk pengembangan vaksin untuk pencegahan terhadap infeksi HIV. Diantaranya yang cukup memberi harapan adalah kandidat vaksin dari rekombinant protein gp 120, protein selaput (envelope protein) virus HIV. Dari hasil percobaan menggunakan simpanse, didapatkan bahwa vaksin ini mencegah simpanse dari virusa HIV. Kandidat vaksin ini dikembangkan oleh VaxGen Inc., perusahaan yang bergerak dibidang produk biologi untuk penyakit menular yang berpusat di Australia.
Setelah terbukti keampuhannya pada simpanse, kandidat vaksin yang bernama AIDSVAX ini kemudian memasuki pengujian klinis melalui beberapa fase pada manusia. Pengujian klinis lolos untuk pada fase 1, dimana yang diuji adalah tingkat keamanan dan dosisnya. Begitu juga untuk fase 2, yaitu pengujian dalam skala besar terhadap tingkat stimulasi antibodinya. Namun sayang sekali, AIDSVAX ini tidak bisa lolos dalam fase 3. Dalam fase ini dilakukan pengujian dalam skala besar terhadap ketahanan manusia yang telah di vaksinasi terhadap serangan virus HIV. Walaupun demikian, usaha pengembangan vaksin masih tetap dilaksanakan. Tentunya kita berharap obat dan vaksin HIV bisa ditemukan segera.
  • Perawatan
Perawatan dilakukan dengan mengingat prinsip-prinsip isolasi protektif dan isolasi preventif.
  • Rehabilitasi / Edukasi
Rehabilitasi ditujukan pada pengidap atau pasien AIDS dan keluarga atau orang terdekat, dengan melakukan konseling yang bertujuan untuk :
  1. Memberikan dukungan mental -psikologis.
  2. Membantu mereka untuk bisa mengubah perilaku resiko tinggi menjadi perilaku yang tidak beresiko atau kurang beresiko.
  3. Mengingat kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan kondisi tubuh yang baik.
  4. Membantu mereka untuk menemukan solusi permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah-masalah pribadi dan sensitif kepada keluarga dan orang terdekat.
  • Edukasi
Edukasi pada masalah HIV/AIDS bertujuan untuk mendidik pasien dan keluarganya tentang bagaimana menghadapi kenyataan hidup bersama AIDS, kemungkinan diskriminasi dari masyarakat sekitar, bagaimana tangggung jawab keluarga, teman dekat, atau masyarakat lain. Pendidikan juga diberikan tentang cara hidup sehat, mengatur diet, menghidari kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan, antara lain rokok, minuman keras, narkotik dan sebagainya.
  • Aspek Khusus
Sepanjang sejarah penelitian kedokteran, virus HIV merupakan satu-satunya virus yang dapat diteliti sedemikian luas, namun penelitian itu belum dapat menemukan obat yang paten, ataupun vaksinnya. Karena itu yang sangat khusus dari HIV/AIDS tidak ada pilihan lain selain dengan cara pencegahan melalui edukasi atau pendidikan kesehatan yang bertujuan untuk mengubah perilaku beresiko tinggi menjadi perilaku yang kurang beresiko atau tidak beresiko untuk penularan.




BAB III
KASUS

  1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. N
Umur : 26 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Purbalingga
Pekerjaan : buruh
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Tgl masuk RSMS : 9 Maret 2011
Tgl pemeriksaan : 18 Maret 2011

  1. ANAMNESIS (Autoanamnesis dan alloanamnesis).
  1. Keluhan utama : Lemas
  2. Keluhan tambahan : BB menurun, batuk berdahak, sariawan di mulut, BAB cair, keputihan, nafsu makan menurun, demam
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RSMS dengan keluhan badan lemas yang sudah dirasakan sejak 4 hari sebelum masuk RSMS. Badan lemas dirasakan di seluruh badan secara tiba-tiba oleh pasien sampai mengganggu aktivitas dan diikuti dengan sakit kepala, mual, dan tidak ada nafsu makan, sehingga pasien hanya terbaring lemas di atas kasur.
Pasien juga mengeluhkan sariawan yang dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu. Sariawan semakin banyak dan tidak sembuh-sembuh. Keluhan tersebut disertai dengan nyeri telan dan mual. Selain itu, pasien mengeluhkan BAB cair yang sudah dirasakan ± 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. BAB cair berwarna kuning, berbusa, tidak ada lendir, tidak ada darah, tidak berbau busuk, dan saat akan BAB perut tidak melilit. BAB cair bersifat hilang timbul dalam 1 bulan, dengan frekuensi 3-4 kali per hari. Satu minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh demam naik turun dan batuk berdahak. Demam dengan suhu yang tidak begitu tinggi dan tidak menggigil. Batuk berdahak berwarna putih dan tidak disertai darah berwarna merah gelap. Pasien mengaku BAK lancar.
Pasien mengaku sering keluar keputihan dari jalan lahir sejak ± 4 bulan. Keputihan berwarna putih seperti lendir, berbau amis, dan disertai gatal pada kemaluan. Pasien mengaku belum menstruasi sejak bulan Januari 2011. Berat badan pasien menurun ± 21 kg selama satu setengah tahun terakhir. Pasien mengaku tidak nafsu makan, karena perut mual tanpa disertai muntah.
Pasien mengeluhkan benjolan di leher sejak tahun 2010. Benjolan bertambah besar dan disertai nyeri, serta berwarna kemerahan. Setelah pasien berobat ke dokter di Jakarta, pasien mengaku benjolan mulai mengecil. Sebelumnya, pasien mengaku pernah mendapatkan OAT pada bulan Juni 2010 dan putus obat pada bulan September 2010 karena pasien alergi terhadap salah satu jenis OAT yaitu Rifampicin.
  1. Riwayat Penyakit Dahulu :
  • Ada riwayat pengobatan TB paru pada bulan Juni 2010 di Puskesmas di Purbalingga dan putus obat pada bulan September 2010 karena alergi rifampicin.
  • Riwayat alergi : terdapat alergi obat Rifampicin
  • Riwayat penyakit jantung : disangkal
  • Riwayat penyakit ginjal : disangkal
  1. Riwayat Penyakit Keluarga :
  • Riwayat penyakit paru : disangkal
  • Riwayat batuk lama : disangkal
  • Riwayat alergi : disangkal
  • Riwayat diare lama : disangkal
  1. Riwayat Sosial
Pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Pasien dan orang tua sudah lama tinggal di Jakarta, kemudian orang tua pindah ke Purbalingga. Pasien tinggal di rumah kos di Jakarta di daerah pemukiman padat penduduk, di mana 1 kamar berisi 4 orang. Disekitar tempat tinggal pasien tidak terdapat pabrik maupun tempat pembuangan limbah. Lantai kamar menggunakan keramik. Ventilasi kamar kos pasien kurang dan pencahayaannya kurang. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan pasien bahwa kamarnya terlihat gelap walaupun di siang hari. Kamar yang dihuni pasien berukuran ± 3x 4 meter.
Pasien bekerja sebagai pelayan toko yang menjual pakaian dalam wanita di Jakarta. Pasien sudah menikah selama ± 7 tahun dan mempunyai 2 orang anak. Pasien mengaku hubungan antara pasien dan suaminya tidak harmonis. Suami pasien tidak mau bekerja dan tidak mau mengurus kedua anaknya, sehingga pasien yang harus membanting tulang mancari uang untuk membiayai kedua anaknya. Pasien mengatakan bahwa suaminya sering melakukan hubungan seksual dengan wanita lain dan berganti-ganti pasangan.
Oleh karena keadaan ekonomi dan kondisi keluarga pasien yang memprihatinkan, pasien mengaku sering melampiaskan kekesalanya dengan pergi ke diskotik dan minum-minuman beralkohol. Pasien mengaku pernah memakai obat-obatan terlarang seperti pil extacy. Pasien membantah pemakaian obat-obatan terlarang dengan menggunakan jarum suntik. Pasien juga mengaku pernah melakukan hubungan sexual dengan pria selama pergi ke diskotik tersebut. Pasien menyangkal tidak pernah memakai tato di tubuhnya.
  1. PEMERIKSAAN FISIK.
Keadaan Umum
:
Sedang, kooperatif
Kesadaran
:
Compos Mentis
Vital Sign
:
T : 110/70 mmHg
R : 20 x/menit
N : 84 x/menit
S : 37,8 O C


BB : 33kg


TB : 155 cm
IMT = 33/ (1,55)2kg/m2


= 13,74 kg/m2



Status Generalis
1.
Pemeriksaan Kepala

-
Bentuk Kepala
:
Mesochepal, simetris.

-
Rambut
:
Warna hitam, mudah rontok, mudah dicabut

-
Nyeri Tekan
:
Tidak ada
2.
Pemeriksaan Mata

-
Palpebra
:
Edema (-/-), ptosis (-/-)

-
Konjunctiva
:
Anemis (+/+)

-
Sklera
:
Ikterik (-/-)

-
Pupil
:
Reflek cahaya (+/+)
3.
Pemeriksaan Telinga
:
Otore (-/-), deformitas (-/-), nyeri tekan (-/-)
4.
Pemeriksaan Hidung
:
Nafas cuping hidung (-/-), deformitas (-/-), rinore (-/-)
5.
Pemeriksaan Mulut dan Faring
:

Bibir terlihat kering, sianosis (-), tampak plak putih yang meluas mengenai mukosa bukal , permukaan ventral dan dorsal lidah, tepi hiperemis (-), sariawan (+)

6.
Pemeriksaan Leher

-
Trakea
:
Deviasi trakea (-), Struma (-).

-
Kelenjar Tiroid
:
Tidak membesar

-
Kelenjar limfe
:
Membesar (kiri), nyeri (+)

-
JVP
:
Tidak meningkat
7.
Pemeriksaan Dada

Paru-paru
  • Paru bagian Depan :
Inspeksi : Dada simetris, Ketinggalan gerak (-), Retraksi (-)
Palpasi :Vokal fremitus lobus superior kanan dan kiri meningkat
Vokal fremitus lobus inferior kanan = kiri
Perkusi : Sonor pada semua lapang paru
Auskultasi : Suara dasar : Vesikuler, bronchial (di apex paru)
Suara tambahan : Ronkhi basah kasar pada paru
bagian parasternal kiri dan kanan
  • Paru bagian belakang :
Inspeksi : Simetris
Palpasi : Vokal fremitus lobus superior kanan dan kiri meningkat
Vokal fremitus lobus inferior kanan = kiri
Perkusi : Sonor pada kedua paru
Auskultasi : Suara dasar : Vesikuler, bronchial (di apex paru)
Suara tambahan : Ronkhi basah kasar pada paru
bagian parasternal kanan dan kiri

Jantung


-
Inspeksi
:
Ictus cordis tampak di SIC V 2 jari medial LMC sinistra


-
Palpasi
:
Ictus cordis teraba di SIC V 2 jari medial LMC sinsitra, kuat angkat (-)


-
Perkusi
:
Batas jantung





Kanan atas
SIC II LPSD





Kanan bawah
SIC IV LPSD





Kiri atas
SIC II LPSS





Kiri bawah
SIC V 2 jari medial LMCS


-
Auskultasi
:
S1 > S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
8.
Pemeriksaan Abdomen

-
Inspeksi
:
Datar

-
Auskultasi
:
Peristaltik usus (+) normal

-
Perkusi
:
timpani, pekak sisi (-), pekak alih (-)

-
Palpasi
:
supel, undulasi (-), nyeri tekan(-), hepar dan lien tak teraba besar
9
Pemeriksaan Ekstremitas

-
Superior
:
Deformitas (-), jari tabuh (-), ikterik (-), sianosis (-),edema (-)

-
Inferior
:
Deformitas (-), ikterik (-), sianosis (-), edema (-)

Pemeriksaan penunjang
Hasil laboratorium tanggal 9 Maret 2011
Darah lengkap
1. Hb : 6 gr/dl ↓ (nilai normal): 13-16 gr/dl
2. Leukosit : 12.530 /ul 5000 – 10.000 /ul
3. Hematokrit : 19 % ↓ L 40 – 48, p 37 – 43 %
4. Eritrosit : 2,4 juta /ul ↓ L 4,5 – 5,5 , p 4 – 5 juta /ul
5. Trombosit : 397.000/ul 150.000 – 400.000 /ul
6. MCV : 79,8 ↓ 82 – 92 pg
7. MCH : 25,2% ↓ 31 – 37 %
8. MCHC : 31,6 gr/dl 32 – 36 gr/dl
9. RDW : 20,7 % ↑ 11,5-14,5 %
10.MPV : 8,4 (7,2-11,1fl)
Hitung Jenis
a. Eosinofil : 0,0 (nilai normal) 0-1 %
b. Basofil : 0,1 ↓ 1-3 %
c. Batang : 0,00 ↓ 2-6 %
d. Segmen : 80,1 ↑ 50-70 %
e. Limfosit : 13,7 ↓ 20-40 %
f. Monosit : 6,1 2-8 %
Kimia Darah
SGOT : 44 U/L ↑ (15-37 U/L)
SGPT : 21 U/L ↓ (30-65 U/L)
Ureum darah : 19,9 mg/dl (10-50 mg/dl)
Kreatinin darah : 0,85 mg/dl (0,7-1,2 mg/dl)
GDS : 97 mg/dl (≤ 200 mg/dl)
Natrium : 125 mmol/L (136-145 mmol/L)
Kalium : 3,4 mmol/L ↓ (3,5-5,1 mmol/L)
Klorida : 94 mmol/L ↓ (98-107 mmol/L)

Tanggal 10 Maret 2011 : konsul VCT
Tanggal 11 Maret 2011 : hasil pemeriksaan B24 reaktif
Hasil USG tanggal 11 Maret 2011
Kesan :
  • Curiga limfadenopati paraaorta dan paraumbilikal
  • Hidronefrosis kiri (mild)
  • Tak tampak kelainan lain pada organ-organ intrabdomen secara sonografi
Tanggal 11 Maret 2011
Transfusi 2 kolf
Tanggal 12 Maret 2011 : konsul ke paru dengan diagnosis B24 dengan TB paru dan TB ekstra paru, riwayat OAT (alergi rifampisin).
Hasil pemeriksaan dari paru : infeksi TB-HIV, SIDA, suspek PCP, dan rifampisin diganti dengan levofloxacin.
Hasil laboratorium tanggal 13 Maret 2011
Darah lengkap
1. Hb : 8,3 gr/dl ↓ (nilai normal): 13-16 gr/dl
2. Leukosit : 3720 /ul 5000 – 10.000 /ul
3. Hematokrit : 25 % ↓ L 40 – 48, p 37 – 43 %
4. Eritrosit : 3,1 juta /ul ↓ L 4,5 – 5,5 , p 4 – 5 juta /ul
5. Trombosit : 234.000/ul 150.000 – 400.000 /ul
6. MCV : 80,6 ↓ 82 – 92 pg
7. MCH : 26,9% ↓ 31 – 37 %
8. MCHC : 33,3 gr/dl 32 – 36 gr/dl
9. RDW : 19,2 % ↑ 11,5-14,5 %
10.MPV : 9,3 (7,2-11,1fl)

Hitung Jenis
a. Eosinofil : 0,0 (nilai normal) 0-1 %
b. Basofil : 0,0 ↓ 1-3 %
c. Batang : 0,00 ↓ 2-6 %
d. Segmen : 80,6 ↑ 50-70 %
e. Limfosit : 14,0 ↓ 20-40 %
f. Monosit : 5,4 2-8 %
transfusi 2 kolf

Hasil laboratorium tanggal 15 Maret 2011
Darah lengkap
1. Hb : 8,2 gr/dl ↓ (nilai normal): 13-16 gr/dl
2. Leukosit : 8530 /ul 5000 – 10.000 /ul
3. Hematokrit : 25 % ↓ L 40 – 48, p 37 – 43 %
4. Eritrosit : 3,1 juta /ul ↓ L 4,5 – 5,5 , p 4 – 5 juta /ul
5. Trombosit : 198.000/ul 150.000 – 400.000 /ul
6. MCV : 82 ↓ 82 – 92 pg
7. MCH : 26,9% ↓ 31 – 37 %
8. MCHC : 32,8 gr/dl 32 – 36 gr/dl
9. RDW : 18,5 % ↑ 11,5-14,5 %
10.MPV : 9,4 (7,2-11,1fl)

Hitung Jenis
a. Eosinofil : 0,0 (nilai normal) 0-1 %
b. Basofil : 0,0 ↓ 1-3 %
c. Batang : 0,00 ↓ 2-6 %
d. Segmen : 89,8 ↑ 50-70 %
e. Limfosit : 5,5 ↓ 20-40 %
f. Monosit : 4,7 2-8 %
tanggal 16 Maret 2011 transfusi 2 kolf

DIAGNOSIS
  1. B24
  2. Pneumonia
  3. Limfadenopati regio colli
  4. Multiple stomatitis
  5. underweight

PENATALAKSANAAN
Medikamentosa :
IVFD RL 20 tetes/menit
Inj. Cefotaxim 2 x 1 gram (i.v)
Inj. Rantin 2 x 1 ampul (i.v)
Nystatin drip 3 x1 cc
Paracetamol tab 3 x 500 mg (p.o)
Ambroxol syr 3 x 1 c
Dexametason 3 x 2 ampul (i.v)
Dexanta 3 x 1
Duviral 2 x 1 (1-0-1)
Neural 1 x 1 (0-0-1)
Kandistatin 1 ampul (i.v)
Cotrimoxazol 2 x 1 gram (i.v)

Non Medikamentosa :
  • Perawatan
Perawatan dilakukan dengan mengingat prinsip-prinsip isolasi protektif dan isolasi preventif.
  • Rehabilitasi / Edukasi
Rehabilitasi ditujukan pada pengidap atau pasien AIDS dan keluarga atau orang terdekat, dengan melakukan konseling yang bertujuan untuk :
  1. Memberikan dukungan mental -psikologis.
  2. Membantu mereka untuk bisa mengubah perilaku resiko tinggi menjadi perilaku yang tidak beresiko atau kurang beresiko.
  3. Mengingat kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan kondisi tubuh yang baik.
  4. Membantu mereka untuk menemukan solusi permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah-masalah pribadi dan sensitif kepada keluarga dan orang terdekat.







BAB IV
PEMBAHASAN

AIDS merupakan suatu sindrom atau kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik defisiensi imun berat, dan merupakan manifestasi stadium akhir infeksi HIV. Antibodi HIV positif tidak identik dengan AIDS, karena AIDS harus menunjukkan adanya satu atau lebih gejala penyakit akibat defisiensi sistem imun selular.
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit – penyakit lain yang berakibat fatal, padahal penyakit tersebut tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal.
Bagi negara-negara yang mempunyai fasilitas diagnostik yang cukup, definisi AIDS adalah sebagai berikut :
  1. Suatu penyakit yang menunjukkan adanya defisiensi imun selular, misalnya sarkoma Kaposi, atau satu atau lebih infeksi oportunistik yang didiagnostik dengan cara yang dapat dipercaya.
  2. Tidak adanya sebab-sebab lain imunodefisiensi selular yang diketahui berkaitan dengan penyakit tersebut.
Sedangkan bagi negara-negara yang tidak mempunyai fasilitas diagnostik yang cukup, telah disusun suatu ketentuan klinik sebagai berikut :
Dicurigai AIDS pada orang dewasa bila ada paling sedikit dua gejala mayor dan satu gejala minor dan tidak ada sebab-sebab imunosupresi yang lain seperti kanker, malnutrisi berat, atau pemakaian kortikosteroid yang lama.
Gejala mayor :
  1. Penurunan berat badan lebih dari 10%
  2. Diare kronik lebih dari 1 bulan
  3. Demam lebih dari satu bulan (kontinyu atau intermiten)
Gejala minor :
  1. Batuk lebih dari satu bulan
  2. Dermatitis pruriti umum
  3. Herpes zoster recurrens
  4. Kandidiasis oro-faring
  5. Lamfadenopati generalisata
  6. Herpes simpleks diseminata yang kronik progresif

Pada kasus ini pasien datang ke IGD RSMS dengan keluhan badan lemas yang sejak 4 hari sebelum masuk RSMS. Lemas dirasakan di seluruh badan secara tiba-tiba oleh pasien sampai mengganggu aktivitas dan diikuti dengan sakit kepala, mual, dan tidak ada nafsu makan, sehingga pasien hanya terbaring. Berat badan pasien menurun ± 21 kg selama satu setengah tahun terakhir. Pasien mengaku tidak nafsu makan, karena perut mual tanpa disertai muntah.
Satu minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh demam naik turun dan batuk berdahak. Demam dengan suhu yang tidak begitu tinggi dan tidak menggigil. Batuk berdahak berwarna putih dan tidak disertai darah berwarna merah gelap.
Selain itu, pasien mengeluhkan BAB cair yang sudah dirasakan ± 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. BAB cair berwarna kuning, berbusa, tidak ada lendir, tidak ada darah, tidak berbau busuk, dan saat akan BAB perut tidak melilit. BAB cair bersifat hilang timbul dalam 1 bulan, dengan frekuensi 3-4 kali per hari.
Menurunnya berat badan pada pasien mencapai lebih dari 10% merupakan gejala mayor dalam mencurigai pasien dengan AIDS. Namun, keluhan demam yang dirasakan pasien hanya sekitar 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, sehingga tidak memenuhi kriteria gejala mayor. Diare yang dialami pasien selama sekitar 1 bulan sebelum masuk rumah sakit dan hilang timbul memenuhi kriteria gejala mayor. Sehingga dapat disimpulkan pada pasien ini memenuhi 2 gejala mayor untuk mencurigai pasien dengan AIDS.
Pasien juga mengeluhkan sariawan yang dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu. Sariawan semakin banyak dan tidak sembuh-sembuh. Keluhan tersebut disertai dengan nyeri saat menelan dan mual. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan pada rongga mulut pasien tampak plak putih yang meluas meliputi mukosa bukal , permukaan ventral, dan dorsal lidah
Pasien mengaku sering keluar keputihan dari jalan lahir sejak ± 4 bulan. Keputihan berwarna putih seperti lendir, berbau amis, dan disertai gatal pada kemaluan. Pasien mengaku belum menstruasi sejak bulan Januari 2011.
Pasien mengeluhkan adanya benjolan di leher sejak tahun 2010. Benjolan bertambah besar dan disertai nyeri, serta berwarna kemerahan. Setelah pasien berobat ke dokter di Jakarta, pasien mengaku benjolan mulai mengecil. Sebelumnya, pasien mengaku pernah mendapatkan OAT pada bulan Juni 2010 dan putus obat pada bulan September 2010 karena pasien alergi terhadap salah satu jenis OAT yaitu Rifampicin.
Gejala sariawan pada pasien yang didukung dengan ditemukanya plak putih luas pada mukosa bukal, permukaan ventral, dan dorsal lidah, merupakan tanda dari candidiasis oral. Sehingga dapat disimpulkan pada pasien ini memenuhi kriteria gejala minor untuk mencurigai pasien dengan AIDS. Sedangkan keluhan batuk pada pasien tidak memenuhi kriteria gejala minor karena batuk dirasakan pasien baru 1 minggu yang lalu.
Pasien mengaku hubungan antara pasien dan suami tidak harmonis. Suami pasien tidak mau bekerja dan tidak mau mengurus kedua anaknya, sehingga pasien yang harus membanting tulang mancari uang untuk membiayai kedua anaknya. Pasien mengatakan bahwa suaminya sering melakukan hubungan seksual dengan wanita lain dan berganti-ganti pasangan.
Oleh karena keadaan ekonomi dan kondisi keluarga pasien yang memprihatinkan, pasien mengaku sering melampiaskan kekesalanya dengan pergi ke diskotik dan minum-minuman beralkohol. Pasien mengaku pernah memakai obat-obatan terlarang seperti pil extacy. Pasien membantah pemakaian obat-obatan terlarang dengan menggunakan jarum suntik. Pasien juga mengaku pernah melakukan hubungan sexual dengan pria selama pergi ke diskotik tersebut. Pasien menyangkal tidak pernah memakai tato di tubuhnya.
Keadaan keluarga pasien yang tidak harmonis merupakan stressor psikologis yang dapat mengarahkan pasien mencari komunitas dan suasana lain untuk melampiaskan kekecewaanya terhadap keluarganya. Sehingga pasien terjerumus dalam kehidupan yang tidak baik dan perilaku yang beresiko, diantaranya pergi ke diskotik, minum-minuman beralkohol, memakai obat-obatan terlarang, juga perilaku seksual yang tidak sehat, seperti berganti-ganti pasangan, yang dapat menjadi media penularan HIV. Hal ini juga diperberat dengan perilaku suami pasien yang suka berhubungan seksual dengan perempuan lain dan berganti-ganti pasangan, sehingga berpotensi menularkan HIV kepada pasien.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis pada mata pasien, ini merupakan gejala anemia. Hal ini diperkuat pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan Hb 6 gr/dl. Selain itu juga pada anamnesis pasien mengeluh lemas dan mudah lelah.
Pada pemeriksaan rongga mulut didapatkan plak putih meluas pada mukosa bukal dan lidah pasien yang merupakan tanda candidiasis oral serta terdapat sariawan yang tidak kunjung sembuh. Ini merupakan gejala penurunan daya tahan tubuh. Didapatkan pula pembesaran kelenjar limfe disertai nyeri pada region colli, yang merupakan tanda adanya infeksi atau curiga ke arah keganasan. Hal ini diperkuat dengan adanya leukositosis pada pemeriksaan darah lengkap. Hasil USG juga menunjukan kecurigaan adanya limfadenopati paraaorta dan paraumbilikal serta hidronefrosis kiri.
Dari hasil pemeriksaan fisik paru didapatkan adanya ronkhi basah kasar pada parasternal kanan dan kiri yang menunjukan adanya pneumonia. Hal ini juga dikuatkan dengan anamnesis yang menunjukkan pasien pernah menjalani pengobatan OAT namun putus obat pada bulan September 2010. Pasien juga mengakui alergi terhadap rifampisin oleh karena itu pada terapi pasien rifampisin digantikan dengan levofloxacin.
Beberapa infeksi oppurtunistik yang merupakan ciri khas dari munculnya AIDS. Pada pasien ini didapatkan beberapa infeksi opportunistik yang mendukung munculnya AIDS :
  1. Thrush
Merupakan pertumbuhan berlebihan jamur candida di dalam mulut, vagina atau kerongkongan. Biasanya merupakan infeksi yang pertama kali muncul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien menderita sariawan dan terdapat plak putih pada mukosa bukal dan lidah.
  1. Pneumonia pneumokistik
Pneumonia karena jamur pneumosistis carinii merupakan infeksi oppurtunisktik yang sering berulang pada penderita AIDS. Infeksi ini sering kali merupakan infeksi opportunistik serius yang pertama kali muncul dan sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV. Pada pasien didapatkan pneumonia yang didukung dari hasil pemeriksaan fisik pada thorak pasien yaitu adanya ronkhi basah kasar pada parasternal kanan dan kiri.
  1. TBC
TBC pada penderita infeksi HIV lebih sering terjadi dan bersifat lebih mematikan. TBC dapat diobati dan dicegah dengan OAT yang biasa digunakan. Pada pasien didapatkan riwayat konsumsi OAT pada tahun 2010 namun pasien mengakui putus OAT pada September 2010.
  1. Infeksi saluran pencernaan.
Infeksi yang disebabkan oleh parasit Cryptosporydium sering ditemukan pada penderita AIDS. Gejalanya berupa diare hebat, nyeri perut, dan penurunan berat badan. Pada pasien didapatkan diare selama 1 bulan yang hilang timbul.
Penatalaksanaan dari aspek farmakologi direncanakan diberikan :
  1. IVFD RL 20 tetes/menit
  2. Inj. Cefotaxim 2 x 1 gram (i.v)
  3. Inj. Rantin 2 x 1 ampul (i.v)
  4. Nystatin drip 3 x1 cc
  5. Paracetamol tab 3 x 500 mg (p.o)
  6. Ambroxol syr 3 x 1 c
  7. Dexametason 3 x 2 ampul (i.v)
  8. Dexanta 3 x 1
  9. Duviral 2 x 1 (1-0-1)
  10. Neural 1 x 1 (0-0-1)
  11. Kandistatin 1 ampul (i.v)
  12. Cotrimoxazol 2 x 1 gram (i.v)
Obat-obat HIV yang sekarang digunakan ini hanya menghambat atau memperlambat kerja virus tersebut. Sebab belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan pasien dari HIV.
Obat-obatan yang banyak digunakan secara klinis sampai saat ini adalah pengobatan dengan obat kimia (chemotherapy) obat-obat ini biasanya adalah inhibitor enzim yang diperlukan untuk replikasi virus itu sendiri, seperti inhibitor enzim reverse transcriptase atau protease.
Pada saat ini sudah banyak obat yang digunakan untuk menangani infeksi HIV tersebut seperti :
  1. Golongan nudeoside reverse transcriptase inhibitor.
  1. Zidovudin (azt)
  2. Ddi (didanosin)
  3. Ddc (zalsitabin)
  4. D4t (stavlidin)
  5. 3 tc (lamivudin)
  1. Golongan Non - nudeside reverse transcriptase inhibitor
  1. Nevirapin
  2. Delavirdin
  3. Efavirenz
  1. Golongan Protease inhibitor
  1. Saquinavir
  2. Ritonavir
  3. Indinavir
  4. Nelfinavir
Semua obatan tersebut ditunjukan untuk mencegah replikasi virus sehingga memperlambat progresivitas penyakit. Pada umumnya pemakaian obat-obat ini adalah kombinasi satu sama lain. Hal ini disebabkan pada pemakaian obat tunggal selain tidak efektif juga menyebabkan mudah munculnya virus yang resisten terhadap obat tersebut. Pemakaian obat kombinasi ini menjadi standar pengobatan AIDS saat ini dan cara ini dinamakan Higly Active Antiretroviral therapy (HAART). 5
  • Penderita AIDS → asiklovir jangka panjang
  • Pengobatan
  • Obat-obatan untuk mencegah infeksi oportunistik.
  • Penderita dengan kadar limfosit cd4+ kuarang dari 200 sel/ml mendapatkan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol untuk mencegah pneumonia pneumokistik toksoplasma ke otak.
  • Penderita dengan limfosit cd4+ kurang dari 100 sel/ml darah mendapatkan azitromisin seminggu sekali atau klaritromisin atau rifabutin setiap dari untuk mencegah infeksi mycobacterium avium.






















BAB V
KESIMPULAN

  1. Menurunnya berat badan pada pasien mencapai lebih dari 10% merupakan gejala mayor dalam mencurigai pasien dengan AIDS. Diare yang dialami pasien selama sekitar 1 bulan sebelum masuk rumah sakit dan hilang timbul memenuhi kriteria gejala mayor. Sehingga dapat disimpulkan pada pasien ini memenuhi 2 gejala mayor untuk mencurigai pasien dengan AIDS.
  2. Gejala sariawan pada pasien yang didukung dengan ditemukanya plak putih luas pada mukosa bukal, permukaan ventral, dan dorsal lidah, merupakan tanda dari candidiasis oral. Sehingga dapat disimpulkan pada pasien ini memenuhi kriteria gejala minor untuk mencurigai pasien dengan AIDS.
  3. Perilaku seksual pasien yang beresiko, seperti berganti-ganti pasangan, dapat menjadi media penularan HIV. Hal ini juga diperberat dengan perilaku suami pasien yang suka berhubungan seksual dengan perempuan lain dan berganti-ganti pasangan, sehingga berpotensi menularkan HIV kepada pasien.
  4. Pada pemeriksaan rongga mulut didapatkan plak putih meluas pada mukosa bukal dan lidah pasien yang merupakan tanda candidiasis oral serta terdapat sariawan yang tidak kunjung sembuh. Ini merupakan gejala infeksi opportunistik yang mendukung adanya penurunan daya tahan tubuh.
  5. Didapatkan pembesaran kelenjar limfe disertai nyeri pada regio colli, yang merupakan tanda adanya infeksi atau curiga ke arah keganasan. Hal ini diperkuat dengan adanya leukositosis pada pemeriksaan darah lengkap. Hasil USG juga menunjukan kecurigaan adanya limfadenopati paraaorta dan paraumbilikal serta hidronefrosis kiri.
  6. Dari hasil pemeriksaan fisik paru didapatkan adanya ronkhi basah kasar pada parasternal kanan dan kiri yang menunjukan adanya pneumonia.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Sidang kabinet sesi khusus HIV/AIDS Maret 2002.
  2. Poznansky, dkk. Pemanfaatan virus HIV sebagai vektor dalam proses gen transfer. Dana -Farber Cancer Institute, Amerika. 1991.
  3. Wenzhe Ho, The Children Hospital of Philadelphia, Julianna Lisziewicz, National Cancer institute. Penghambatan replikasi HIV di dalam sel dengan menggunakan antisense tat protein.
  4. David Baltimore. Penghambatan infeksi HIV terhadap sel T (human T cell) dengan menggunakan siRNA terhadap protein CCR5 yang merupakan coreseptor HIV. Universty of California, Los Angeles (UCLA).
  5. Pertemuan Konferensi Internasional AIDS ke XI di Vancouver, Juli 1996. Penggunaan tipe obat kombinasi (triple drugs) yang mampu menurunkan VIRAL LOAD hingga jumlah minimal dan memberikan harapan penyembuhan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar